GUNDALA PUTRA PETIR..........KOMIK DAN “THE MOVIE”

NAMA Gundala Putra Petir di kalangan pencinta komik pasti tak asing lagi. Gundala menjadi "sakti" setelah tersambar petir (seperti Ponari si dukun cilik dari Jombang). Hasmi alias Harya Suryaminata, hanya tersenyum jika dikaitkan dengan Ponari. Tahun ini (tepatnya September nanti), sang superhero ini berusia 40 tahun.

Meski banyak hal yang belum terungkap, menjelang empat dasawarsa kelahirannya, kini ramai dibicarakan proses pembuatan Gundala the movie.

gundala putra petir, hasmi, komik indonesia
Meski Gundala terus dikenang dan belakangan dirilis kembali oleh penerbit Bumi Langit Jakarta, nasib Hasmi tetaplah belum berubah. Ruang depan difungsikan sebagai ruang tamu sekaligus ruang kerjanya. Ada satu meja kecil ukuran 60 x 80 sentimeter di sudut timur penuh dengan tumpukan kertas ukuran A4 dan alat-alat gambar. Di meja itulah Hasmi berkarya.

Bagaimana skenario film Gundala? Lagi-lagi Hasmi hanya tersenyum. ''Tidak mungkin, Mas. Saya juga habis kontak Bumi Langit dan mereka memastikan belum ada rencana untuk bikin film Gundala. Apalagi promosi,'' kata ayah dua putri itu. Secara resmi, Hasmi adalah art manager di PT Bumi Langit. ''Sampai sekarang saya masih memegang jabatan itu. Kalau saya tidak dilibatkan, kan aneh?'' lanjutnya.

Print out poster promosi Gundala lengkap dengan susunan produser, pemain, dan jadwal penayangan di bioskop yang beredar di internet, termasuk facebook, juga ditepis Hasmi. ''Itu hanya ulah para pecinta Gundala yang kreatif. Bukan dari Bumi Langit,'' tangkis Hasmi.


Kening Hasmi mengerut membaca print out sinopsis film Gundala. Di situ diceritakan Sancaka adalah seorang arkeolog muda yang idealis. ''Saya pembuat tokoh Sancaka dan Gundala. Dan, saya tidak mengizinkan tokoh buatan saya diubah begitu saja,'' tegas Hasmi.

Mengubah beberapa hal agar sesuai dengan perkembangan zaman, menurut Hasmi, adalah hal wajar. Dia, misalnya, berkata tidak keberatan bila potongan rambut atau warna kostum Gundala diubah. ''Tapi, tidak untuk hal-hal penting seperti latar balakang profesi. Sancaka adalah insinyur!'' ujarnya.

Setiap superhero mempunyai beberapa karakter yang tidak bisa dihilangkan. Begitu pula Sancaka. Menjadikan Sancaka seseorang dengan profesi selain insinyur, lanjut Hasmi, akan membuat rangkaian cerita Gundala tidak klop. ''Wong semua kisahnya memang berawal dari pekerjaannya sebagai insinyur kok. Jadi tidak bisa diubah begitu saja,'' papar komikus yang yang juga sedang ngebut mengerjakan edisi 40 Tahun Gundala.

Ide membuat edisi 40 tahun Gundala datang darinya dan PT Bumi Langit, perusahaan yang saat ini memegang hak cipta atas tokoh Gundala. Mereka menyiapkan beberapa komikus untuk membantu Hasmi merampungkan 40 Tahun Gundala. ''Saya tidak hafal siapa saja komikus yang membantu saya. Tapi, semoga saja semua lancar dan Gundala bisa dipublikasikan bulan September. Biar tepat 40 tahun,'' kata lulusan Jurusan Bahasa Inggris Akademi Bahasa Asing (ABA) Jogja itu.

Mengenai film Gundala, Hasmi bercerita, sebagai superhero favorit, kisah Gundala pernah diangkat ke layar lebar pada 1982. Teddy Purba memerankan Sancaka atau Gundala. Hasmi mengaku tidak dilibatkan dalam produksi atau penulisan skenario film itu. ''Waktu itu saya tidak ikut terlibat apa-apa. Hanya, saya sering datang ke lokasi syuting untuk menonton Teddy (Teddy Purba). Dia teman dekat saya. Jadi, saya sering diajak syuting,'' papar ayah dua putri, Batari Sekar Dewangga, 10, dan Ainun Anggita Mukti, 4, itu.
gundala putra petirHasmi yang mengerjakan 23 seri Gundala tetap pede menyebut Gundala adalah superhero Indonesia. Dia juga tidak bisa menyembunyikan kebanggaan bila orang lain menyebut hal serupa. ''Sampai saat ini kebanggaan terbesar buat saya adalah saat orang lain berkata Gundala adalah satu-satunya superhero asli Indonesia,'' ujarnya.

Surat dari Akherat adalah seri terakhir Gundala yang dibuat Hasmi pada 1982. Lalu, pada 1988, Gundala sempat muncul dalam bentuk komik strip di Jawa Pos. Namun, itu pun tidak bertahan lama. Setelah tidak lagi memproduksi Gundala, Hasmi bekerja sebagai komikus lepas, editor, ilustrator, dan penulis skenario bagi beberapa program TV dan teater.

''Kalau menggambar, saya masih semangat. Hanya karena usia sudah tua dan banyak juga yang dikerjakan, sekarang tidak bisa lagi cepat seperti dulu. Pelan-pelan saja. Kalau capek, ya berhenti," ujarnya sambil mengelus kepala putri bungsunya, Ata.

Sumber Jawa Pos

8 comments:

Post a Comment

Untuk sobat blogger yang sudah koment disini, maaf jika belum bisa berkunjung, tapi komentnya pasti akan saya balas di blog ini kok......SUERRRRR!!